Minggu, 22 Desember 2013

Bukan Pengadilan Tuhan

Oleh Suryadi



Tamu undangan satu persatu, ada yang berkelompok serentak beranjak dari tempat duduk meninggalkan ruang acara. Sebelum menuruni tangga, mereka ada yang berpose bergaya dengan bebas depan kamera handphone mereka. Para tamu mengabadikan diri dengan pajangan yang dipamer oleh panitia di teras gedung tempat acara.

Semua yang ada pada saat acara bernuansa Melayu. Tradisi, makanan, tulisan mengenai tokoh Melayu, alat-alat tradisi pengobatan dalam Melayu dipamer pada sisi-sisi teras Balai Adat Melayu, Lembaga Adat Melayu Riau. Ini semua untuk mengingatkan kembali tamu yang hadir terutama yang bersuku Melayu, tentang simbol-simbol yang jadi ciri masyarakat etnis ini.


Usai sudah tamu-tamu yang hadir menyaksikan ceremony malam puncak tiga puluh tahun Bahana Mahasiswa.

Dalam ruangan hanya sibuk dengan satu persoalan, usai tamu-tamu meninggalkan tempat acara. Pengurus Bahana Mahasiswa harus mendengarkan nasihat-nasihat dari tetuanya.

Salam hormat untuk tetua Bahana Mahasiswa Universitas Riau...

Di penghujung acara, malam peringatan ulang tahun Bahana Mahasiswa Universitas Riau, pengurus Bahana duduk di depan tetua yang hadir. Ini malam terasa dalam suasana keluarga besar yang sudah lama tak bersue. Pasalnya, diusia yang memasuki tiga dekade ini tetua bahana semakin banyak bertebaran, sibok dengan aktifitas masing-masing. Meski tak semua hadir diacara yang telah direncanakan satu tahun yang lalu ini, penghormatan akan tetap diberikan kepada seluruh tetua yang telah melekatkan sejarah pada pondok kecil yang penuh karya ini—Bahana Mahasiswa Universitas Riau.

Fakhrunnas MA Jabbar, sosok pertama yang memulai menghidupkan Bahana, T. Zulmizan Farinja Assegaf, sosok selanjutnya yang mencatatkan nama di kop Bahana serta Lovina, Pemimpin Umum Bahana diusia tiga puluh tahun. Mereka bertiga duduk di depan tetua-tetua yang turut hadir, Deni Kurnia, Azmi, Ahmad Jamaan, Darul Huda, Misbah Ibrahim, Aldi Roza, Fadil Elang, Yuslenita Muda, Fakhrurradzi dan Antoni. Pengurus Bahana diusia ini juga menggabungkan diri dengan tetua-tetua ini.

Satu persatu tetua-tetua ini bicara. Berbagai kritik dihaturkan pada pengurus Bahana sekarang. Emosi mendalam, yang telah lama terpendam di hati akhirnya tumpah malam itu. Kritik campur emosi ini tak serta merta terucap secara spontan. Kata demi kata yang dikeluarkkan merupakan segumpalan kalimat yang memang diperuntukkan untuk Bahana diusia sekarang.

Mengapa tetua ini ngomong seperti ini dikarenakan mereka menganggap ada yang berubah dengan gaya Bahana sekarang. Hal yang dianggap berubah dari Bahana itu, mengenai pemberitaan Bahana yang terkesan kekiri-kirian, liberal, membela kaum minoritas, Ahmadiyah misalnya. Alumni yang terbawa dalam suasana garis Islam keras menentang ini. sebab Ahmadiyah merupakan isu yang sensitif di tengah-tengah umat Islam. Sebagai kelompok yang dianggap mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi menyebabkan Ahmadiyah dikecam sebagai kelompok yang menodai Islam.

Pandangan ini yang membedakan kru Bahana sekarang dengan kelompok Islam yang mengkecam Ahmadiyah, termasuk Alumni yang terbawa arus pemikiran seperti ini. Bahana Mahasiswa sebagai pers yang berfungsi mengkontrol proses kehidupan duniawi ini, mencoba mengambil posisi yang baik dalam hal pemberitaan. Langkah ini merupakan acuan dalam hal kerja jurnalitik.

Bahana mencoba tidak larut dalam hal perdebatan teologi. Sebab dari proses riset lewat literatur, diskusi dan pengamatan di media massa persoalan konflik agama ini disebabkan oleh perbedaan tafsir yang muncul dikalangan ulama muslim di dunia. Jika Bahana larut dalam perdebatan ini, akan terjadi bias dalam hal pemberitaan. Yang terjadi adalah, Bahana akan ikut mengkecam kelompok Ahmadiyah sebagai kelompok keagamaan yang sesat.

Sisi penting yang diangkat adalah, bagaimana kekerasaan terjadi pada kelompok Ahmadiyah. Kekerasaan tentu merupakan suatu tindakan yang menciderai demokrasi. Karena konsep ini memegang teguh perbedaan sebagai simbol kebebasan dalam segala hal termasuk dalam berkeyakinan. Singkat cerita, untuk hal ini saya berpesan pada Alumni, pahamilah benar-benar suatu persoalan, jangan ikut terseret oleh arus pemikiran yang bias tanpa mengedepankan sifat toleransi.

Hal lain yang jadi kekacauan dalam hati Alumni yang tak menentu ini adalah, persoalan siapa yang mengajar Bahana soal jurnalisme selama ini. Bahana dituduh telah dimasuki “arwah jahat.” Nama Andreas Harsono disebut-sebut sebagai orang yang telah memutar otak anak-anak Bahana sekarang. Untuk hal ini saya pribadi akan menjawab secara singkat saja. Sejauh mana alumni ini mengenal Andreaas Harsono? Sudahkah pernah berjumpa? Atas dasar apa menuduh Andreas seperti itu? Ini tak ada dipaparkan sama sekali ketika mendeskriditkan Andreas termasuk anak-anak Bahana malam itu.

Hampir semua alumni angkat bicara malam itu. Dari sekian yang bicara, semua mendeskreditkan anak-anak Bahana yang sedang menimba ilmu jurnalistik di pers mahasiswa Universitas Riau. Kritikan beragam, mulai dari hal yang mendasar sekali di Bahana sampai pada hal yang tak substansi lagi. Ini sangat memperkeruh keadaan malam itu.

Dua orang kru Bahana diberi kesempatan untuk bicara. Ini sudah bisa ditebak, jawaban yang coba diberikan oleh kru bahana ini sudah pasti dianggapa sebuah perlawanan kepada alumni. Tetua-tetua ini tentulah merasa direndahkan apalagi merasa tak dihargai. Penjelasan yang coba diberikan oleh dua orang kru Bahana, Lovina dan Suryadi dianggap suatu tindakan mengajari mereka. Saya sendiri menganggap mereka memang pantas diajarkan terkait apa yang mereka ributkan padahal mereka tak tahu banyaak tenatng itu. Kalimat perintah yang ingin aku sampaikan pada mereka yang tua-tua itu adalah, jangan berdialog dengan emosi.

Akhir dari dialog malam itu adalah, anak-anak Bahana diminta untuk mengakui kesalahan dan harus bertaubat atas apa yang dilakukan selama ini. Saya pikir ini sensitif sekali, mereka seperti Tuhan yang maha mengampuni. Mereka bukanlah dewa yang selalu benar. Ini bukan pengadilan Tuhan.

Cerita ini ditulis usai memperingati usia Bahana yang ke tiga puluh. Di Balai Adat Melayu Lembaga Adat melayu Riau (LAM) Riau, tempat ceremony  berlangsung. Tulisan ini ditulis sedikit demi sedikti, dari Pekanbaru sampai saya berada di Panipahan kampung kelahiran saya.
Panipahan, 23 Juli 2013
Di teras rumah, marah dengan alumni bahana.

0 komentar:

Posting Komentar