Rabu, 27 Februari 2019

BBKSDA Riau Evakuasi Macan Dahan dari Kolong Rumah Warga


Oleh Suryadi 


Macan Dahan tersandera karena klaim penguasaan lahan di Riau. Sumber: Mongabay.co.id
Seorang warga Kelurahan Rengat, Kecamatan Rengat, Indragiri Hulu memberitahu Tim Rescue Bidang Konservasi Sumberdaya Alam Riau, perihal seekor Macan Dahan di kolong rumahnya. Sekitar pukul 11.00 tim tiba di lokasi bersama Pusat Konservasi Harimau Sumatera, kepolisian, TNI, Camat dan Satpol PP, Jumat (20/7/2018).


Tim mengamankan lokasi dengan memasang jaring sekeliling rumah berikut dengan kandang perangkap, mengatur warga supaya menjaga jarak dari hewan yang dilindungi berdasarkan UU Nomor 5 tahun 1990, tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

“Kita tidak ingin hewan itu panik saat melihat manusia,” kata Mulyo Hutomo, Kabid Konservasi Sumberdaya Alam Wilayah I.

Tindakan terhadap hewan yang suka memanjat pohon itu tidak langsung dilakukan. Tim mengamati perilakunya hingga beberapa jam lamanya. Kondisinya lemah dan tidak menunjukkan reaksi apapun. Macan Dahan itu lalu diberi makan seekor ayam. Setelahnya, hewan yang suka berburu pada malam hari itu langsung menunjukkan tanda-tanda aktif dan berhasil masuk ke kandang perangkap sekitar pukul 7 malam.

Macan Dahan langsung dibawa ke Kantor Bidang Wilayah I beberapa saat dan selanjutnya diangkut ke kandang transit satwa BBKSDA Riau. Kata Suharyono, Kepala BBKSDA Riau, butuh beberapa hari untuk menenangkan hewan itu sebelum dilakukan observasi oleh dokter hewan.

Lokasi kejadian berada di pemukiman padat penduduk. Jarak hutan sekitar lebih kurang 5 kilometer. Belum ada catatan konflik antara manusia dan Macan Dahan di wilayah itu. Memang, Maret lalu BBSKDA Riau juga sempat mengevakuasi hewan yang sama di Rokan Hulu.

“Yang ini tiba-tiba saja kita dapat laporan dari warga,” kata Suharyono.

Menurut Suharyono, hampir seluruh wilayah Sumatera terutama Riau tersebar populasi Macan Dahan termasuk di wilayah konservasi. Hutomo menyebut, hewan dengan nama latin neofelis nebulosa ini sudah tergolong langka.

Febri Anggriawan Widodo, Research and Monitoring (Tiger and Elephant) Module Leader WWF Indonesia, mengatakan, kepadatan populasi Macan Dahan di Riau terdapat di kawasan Rimbang Baling, Bukit Batabuh dan Taman Nasional Tesso Nilo. Selain hidup di hutan primer dan sekunder, Macan Dahan juga didapati menghuni pinggir hutan meski dekat pemukiman warga ataupun perkebunan.

“Asalkan ada tegakan hutannya. Dia hewan yang hobi manjat pohon,” kata Febri, disela-sela waktu istirahat siang di kantornya.

Hampir seluruh habitat Riau ada Macan Dahan. Di hutan perbukitan, di dataran rendah dan juga kawasan gambut. Macan Dahan satu dari enam jenis kucing yang tergolong langka. Seperti Harimau, Kucing Emas, Marble Cat, Kucing Pesek dan Kucing Hutan. Hanya jenis terakhir ini sering ditemui oleh Febri dan timnya kala observasi di hutan.

Adakalanya Macan Dahan hidup dalam satu wilayah bersama hewan lain atau yang juga tergolong jenis predator. Mereka mampu berbagi batas wilayah untuk ruang hidup dan mengatur waktu memangsa. Macan Dahan membutuhkan tutupan hutan sebagai wilayah jajah, kelimpahan mangsa, ketersediaan air dan interaksi sesamanya.

Catatan konflik Macan Dahan dengan manusia masih tergolong jarang. Perburuan beberapa kali pernah terjadi hanya saja hewan ini tidak begitu laku di pasaran. “Beda dengan Harimau,” sebut Febri.

Febri dan akademisi Universitas Riau sedang melakukan riset terhadap pembagian ruang hidup dan model pembagian waktu memangsa hewan predator. Di Rimbang Baling, mereka menemukan 5 jenis kucing bahkan beruang hidup bersama.

Hingga 8 Agustus 2018, Macan Dahan masih berada di kandang transit BKSDA Riau. Rini, dokter hewan klinik satwa BKSDA menyebut, Macan Dahan itu masih dalam observasi sebelum siap untuk direhabilitasi. Pengamatannya sementara, Macan Dahan itu tidak tampak buas. Nafsu makannya juga naik turun, “karena sudah lama tidak berada di alamnya.”
 
Terhadap Macan Dahan itu juga belum dilakukan pengecekan fisik namun terus diberi vitamin untuk memperbaiki nafsu makannya.


Berita ini ditulis pertengahan tahun lalu dan belum diupdate perkembangan macannya sampai hari ini.

0 komentar:

Posting Komentar