Minggu, 07 Juni 2015

Muhibbah Seni, Kamus Berjalan Kesenian Melayu



Suryadi

PANGGUNG KOSONG BERLATAR KAIN HITAM. Cahaya lampu tak begitu terang. Berjalanlah seorang pria dari balik kain hitam. Baju melayu bercorak kuning ia kenakan. Songket khas melayu melilit pinggang hingga lutut. Peci hitam dengan manik-manik kecil bersinar diterangi lampu panggung terpasang di kepala. Sambil melenggang ke sisi panggung, terlihat di tangannya memegang sebuah rebab—alat musik serupa biola.

Dari sisi penonton, terlihat ia duduk di sisi kiri dengan besila kaki. Rebab diletakkan di bahu kiri, jari-jari bersiap mengatur kunci nada, tangan kanan memegang penggesek rebab. Tenang, tangan kanan mendekatkan penggesek ke rebab. Tak berapa lama mengalunlah musik dari alat gesek tersebut. Setiap pengeras suara di ruangan menghantarkan alunan musik ke pendengaran penonton.

Musik terus mengalun, kemudian terlihat seorang perempuan bersanggul berjalan perlahan ke tengah panggung. Ditangannya terdapat secarik kertas. Sesaat kemudian ia sudah melalak, melantunkan tiap bait syair syahdu diiringi alunan rebab. Mendayu dan lembut. Nada syair yang digunakan tak sembarangan, tiap jenis nada bernama. “Ada nada Selendang Delima, Surat Kapal, Burung Tiung dan Ahai,” cerita sang gadis pembaca syair, Atta. Ia sering melantunkan syair dan kerap tampil bersama sanggar seni tempat ia bergabung.

MUHIBBAH SENI, begitulah namanya. Dibentuk sebagai wadah untuk menampilkan secara audio dan visual tradisi khas melayu pada masyarakat. Bermula dari ekspedisi kebudayaan melayu mengarungi sungai besar di Riau oleh Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Universitas Riau atau P2KK UR.

“Tradisi di Riau bak batang terendam,” ujar Elmustian Rahman, pelopor kegiatan yang berlangsung dari tahun 2001 ini ketika ia jadi Ketua P2KK. Sungai yang dilalui diantaranya Sungai Rokan, Kuantan, Kampar dan Indragiri. Dari menyusuri sungai inilah satu persatu khasanah Riau ditemukan. Bak batang yang terendam, dengan ekspedisi ini batang-batang tersebut mulai diangkat kepermukaan. Elmustian menjelaskan, lahirnya tradisi tak terlepas dari sungai, karena banyaknya masyarakat dahulu menetap di pinggir sungai. Maka dilakukan penjelajahan menemukan tradisi yang hilang.

Ia menyesalkan bahwa tradisi asli masyarakat melayu mulai dilupakan. “Pelakon seni tradisional sudah banyak yang meninggal,” ujarnya. Baginya, jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, kesenian tradisional akan tergerus modernisasi. “Kondisi ini tidak bisa dibiarkan,” tambah Elmustian.

Awalnya kesemua tradisi yang ditemukan dirangkum dalam buku berupa ensiklopedia kebudayaan melayu Riau. “Di buku saja tidak cukup,” keluh Elmustian. Ia berpikir kesenian ini harus ditampilkan kekhalayak ramai dan semua bisa menikmatinya. Dari diskusi sana-sini akhirnya disepakatilah untuk membentuk sanggar seni ini.

Seperti yang diniatkan, Muhibbah Seni banyak menampilkan kesenian Riau. mulai dari kesenian lisan melantunkan syair-syair khas Riau seperti syair Ikan Terubuk dari masyarakat Siak, maupun Kayat, kesenian asal Taluk Kuantan dan Rokan.

Ini berupa penyampaian lisan karya sastra Melayu dalam bentuk pantun berisi nasihat ataupun kisah seorang tokoh yang dijadikan pembelajaran. Selain sebagai bentuk hiburan masyarakat, kesenian ini menjadi wadah silaturrahmi masyarakat. Karena ditampilkan di tengah masyarakat dari malam hingga subuh menjelang. Kesenian lainnya yang mirip dengan kayat ialah Bekoba, khas daerah Rokan Hulu. Dari Kampar dan Indragri Hulu dikenal dengan kesenian Batobo, kegiatan berbalas pantun saat gotong-royong di ladang. Pantun Batobo ini disampaikan masyarakat untuk melepas penat bekerja.

Selain seni lisan, juga ada penampilan kesenian bela diri seperti silat Selendang, Silat Tiga Bulan dan Silat Thariqat khas Rokan. Seni tari tak ketinggalan. Mulai dari tari Zapin hingga Joget Lambak. Tak ketinggalan seni Nandung atau bernyanyi.

Untuk memahami tiap kesenian ini, anggota Muhibbah dibawa langsung ke daerah asal kesenian tersebut muncul. Mereka langsung belajar dengan pelaku seni ataupun melihat pertunjukan di sana. “Terkadang orangnya kami bawa langsung ke sini,” jelas Raja Nanda, anggota Muhibbah.

Tujuan awal dibentuknya Muhibbah Seni sebagai wadah memperkenalkan kembali kebudayaan melayu kekhalayak ramai terwujud pada 2009. Belasan anggota Muhibbah Seni melawat ketiga negara di Asia Tenggara, Malaysia, Singapura dan Thailand. “Ini program dari Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi atau Dikti untuk memperkenalkan kesenian daerah,” jelas Mukhtar Ahmad, mantan Rektor Universitas Riau. kesenian yang berasal dari kampung-kampung di Riau disaksikan oleh masyarakat luar Indonesia. “Ternyata kesenian kampung kita ini juga laku di luar negeri sana,” bangga Elmustian.

ATTA SELESAI MELANTUNKAN SYAIRNYA. Kini giliran segerombolan laki-laki dan perempuan yang keluar dari balik kain hitam. Juga berkurung Melayu dan menggunakan songket. Beberapa membawa gendang di tangan. Menuju tengah panggung mereka membagi diri menjadi tiga kelompok. Dua kelopok duduk berhadapan, jadi pelantun bait-bait pantun, satu kelompok lagi duduk menghadap penonton sebagai pemain musik. Diiringi irama rebab dan gendang, mereka  terus saling berbalas patun. “Pantun ini disampaikan tanpa teks, spontan saja,” jelas Atta.

Setelah beberapa kali berbalas pantun, mereka berdiri dan beratraksi di atas panggung. Menari, membentuk lingkaran, berkeliling. Diantara mereka ada yang menghampiri penonton dan mengajak menari bersama di atas panggung. Sontak panggung bertambah ramai karena hentakan kaki, gerak tangan dan irama musik serta pantun yang dilantunkan semakin cepat.#

Tulisan ini pernah dimuat di rubrik Sempena majalah Bahana Mahasiswa Universitas Riau edisi Februari- Maret 2014.

1 komentar: