PERTENGAHAN MARET 2014, orang
nomor satu di Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono yang kerap disapa SBY,
menginjakkan kakinya di Riau. Ia langsung pimpin rapat penanggulangan bencana
yang kerap hadir di Riau. Bencana tahunan dikala kemarau menjelang. Asap.
Sabtu, 28 November 2015
Jumat, 27 November 2015
Selamat Jalan Guru Besar Komunikasi
Mengenang kembali
kiprah sang guru besar. Dikeluarga, kampus dan bersama teman sejawat.
Suryadi
“TEMAN MU BAGAIMANA NASIB SKRIPSINYA?” Pertanyaan itu
dilontarkan seorang pria sembari menandatangani bundelan kertas yang disebut
skripsi. Ia tengah berbicara dengan salah satu mahasiswanya. Duduk di atas
kursi roda, ia kembali bertanya pada Hotmaida Flora—mahasiswa yang datang
mengunjunginya untuk meminta tanda tangan.
Facebook Saya Terserang Situs Porno
Suryadi
Selepas shalat Jumat, saya kembali ke kantor redaksi
Bahana Mahasiswa. Bahana Mahasiswa merupakan Lembaga Pers Mahasiswa Universitas
Riau. Di meja rapat ada majalah Pantau edisi Oktober 2001. Saya sempat
membaca majalah ini sebelum akhirnya menikmati tidur siang.
Jumat, 12 Juni 2015
Bahana Mahasiswa Menolak Lupa
Secuil
usaha Bahana Mahasiswa diusia kepala tiga menolak lupa budaya melayu
Suryadi
DETIK-DETIK PENENTU MENDEKAT. Kain
hitam penutup bingkai siap ditarik. Dua orang itu terus berceloteh. Sindiran mengalir
dari mulut. Tak ada yang peduli, begitupun pemimpin negeri Melayu ini, begitu
ucap salah satunya. Badan mereka hitam. Dari ujung kaki hingga kepala. Mereka terus
mendekati kain hitam. Mulut tak berhenti berucap. Terus menyindir. Kini mereka
berdiri di samping kain hitam. Keduanya terdiam, tangan bergerak menarik kain. Melongok
99 Kisah Mengabadi. Tulisan ini tertera di bawah gambar Candi Muara Takus. Kain
hitam tadi menutupi pigura dengan gambar ini di dalamnya.
USIA KEPALA TIGA,
jika diibaratkan manusia, sudah tak muda lagi. begitulah Bahana. Sebagai salah
satu unit kegiatan mahasiswa di kampus, lembaga yang berkecimpung dalam pers
ini sudah tua. Selisih 21 tahun dari berdirinya Universitas Riau, Bahana lahir
pada 17 Juli 1983.
Berkutat dengan jurnalistik, produk yang dihasilkan
berupa berita seputar dalam dan luar kampus. telah tiga dekade berporoses, perkembangan
produk pun terjadi. Bermula dari koran, sedikit demi sedikit mengalami
perubahan keukuran lebih kecil, sebesar kertas A3. Kini bentuknya jadi majalah.
Media yang digunakan juga berkembang. Dulunya Cuma cetak,
kini beralih memanfaatkan perkembangan teknologi berupa website. Tak
hanya itu, berita video pun coba digarap. Tiga puluh tahun berkarya, tentunya
banyak perubahan terjadi.
Namun satu yang tak berubah. Kemelayuan Bahana tak bisa
terganti. Bukan karena apa-apa, sebab budaya di mana Bahana lahir tak bisa
dilepaskan. Bak pohon, buah yang dihasilkan tetaplah Melayu karena berakar
tanah Melayu.
Buktinya, disetiap produk Bahana akan selalu ada rubrik
membahas Melayu. Baik Khasanah—liputan makanan atau tradisi khas Melayu, Kilas
Balik—kilas sejarah kebudayaan atau cagar budaya Melayu, karikatur ataupun
opini membahas Melayu. Semua ini hanya sebagian kecil usaha Bahana agar Melayu
tak hilang di bumi Lancang Kuning ini.
TARIAN ZAPIN MENGHENTAK.
Alunan musik Melayu yang sarat akan bunyi-bunyian gendang mengisi ruangan. Penari
menggerakkan tubuh ikuti irama. Penonton menyaksikan tarian penyambut khas
Melayu berasal dari Bengkalis ini.
Tarian selesai. balai Adat Melayu kembali sunyi. Pembawa
acara maju memanggil Rahmat, Pembantu Rektor III UR, sampaikan kata sambutan. Dilanjutkan
Fakhrunnas MA Jabbar, Alumni Bahana. Ya, mereka berpesan agar Bahana diusianya
yang sudah 30 tahun dapat jadi lebih baik lagi.
Hari itu, 17 Juli 2013, Bahana adakan perayaan Sempena
3 Dekade di gedung Lembaga Adat Melayu Riau di jalan Diponegoro tersebut. Mengundang
rekan kelembagaan, alumni serta jaringan Bahana. Acara berlangsung dari pukul 4
sore hingga malam.
Satu lagi tradisi yang tak lekang di Bahana adalah
diskusi. Rayakan hari kelahirannya, acara diisi diskusi soal Kemelayuan. Bagaimana
kondisi marwah Melayu kini. Tak ingin Melayu hilang, Bahana coba gali persoalan
yang ada.
Ilham Muhammad Yasir, Ketua Aliansi Jurnalis Independen
Pekanbaru pandu diskusi. Sebagai pemateri hadir Muslim Rasyid dari Jaringan
Kerja Penyelamat Hutan Riau atau Jikalahari. Taufik Ikram Jamil, budayawan Riau
sekaligus Alumni Bahana dan Efrianto, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara
atau AMAN Riau.
Melayu menarik untuk diperbincangkan karena kondisinya
mulai mengkhawatirkan. Sebab kondisi hutan dan sungai sebagai marwah—sumber
penghidupan—Melayu sudah semakin memburuk. Hutan terus ditebang oleh korporasi,
kebakaran hutan melanda Riau beberapa bulan terakhir, hingga kabut membuat
negara tetangga angkat bicara. Sungai pun mengalami nasib sama. Sungai Siak,
ikon masyarakat Melayu Riau sudah tercemar karena perilaku masyarakat sekitar membuang sampah
sembarangan.
Akibatnya konflik berujung korban mewarnai perjuangan
masyarakat adat dengan pihak perusahaan. Ini semua dilakukan untuk pertahankan
marwah mereka yang sejak dulu diwarisi
oleh nenek moyang mereka. Tiga puluh lima menit bincang-bincang soal Melayu. Selanjutnya
tamu undangan sejenak mendengarkan ceramah singkat sebelum menikmati buka
puasa. Peringatan Milad Bahana bertepatan bulan Ramadhan.
Acara yang bertajuk Menolak Lupa Budaya Melayu ini pun
menyajikan makanan khas Melayu untuk berbuka puasa. Lepat Bugi dan minuman air
mata pengantin tersaji di meja panganan. Tak hanya melalui panganan yang
tersedia, di sekeliling ruangan dipamerkan berbagai karya terkait Melayu. Mulai
dari kartun karya Sindikat Kartunis Riau, hingga tulisan soal Melayu yang
pernah dimuat Bahana serta benda yang ditemukan berkaitan dengan tulisan.
Seperti Labu Betung, diambil dari nama desa Betung
Kecamatan Pangkalan Kuras, Pelalawan. Terbuat dari Labu Air yang dilubangi dan
dijemur hingga isinya membusuk selama seminggu. Fungsinya untuk menyimpan air. Selain
itu juga da songket, kain tenun bermotif dari benang emas. Bagi masyarakat
Melayu, kain songket menandakan kedudukan seseorang sering dipakai dilingkungan
kerajaan.
Beralih kemakanan, tentu familiar dengan Belacan,
penyedap rasa terbuat dari ikan dan udang kecil. Bumbu penyedap rasa berbau
tajam ini banyak diproduksi di Kabupaten Rokan Hilir, tepatnya Pulau Halang. Begitu
sampai di Pulau, baunya akan langsung hinggapi penciuman.
Makanan lainnya, khas Suku Sakai, Manggalo Sakai. Terbuat
dari tumbuhan ubi racun yang menjalar di hutan. Ubi dikupas lalu direndam agar
lembut. Diparut dan dimasukkan ke dalam karung goni untuk diperas. Tujuannya agar
racun keluar. Hasil parutan digonseng. “Enaknya dimakan dengan ikan Selais yang
disalai,” ujar Ucok yang juga berasal dari Suku Sakai, kini mahasiswa Ilmu
Ekonomi Universitas Riau.
Menyoal ikan Salai, makanan khas Melayu yang dibuat
dengan teknik pengasapan ini mulai langka. Sebab ikan Selais yang jadi bahan
mulai sulit didapatkan. Panganan khas saat pesta adat ini banyak diproduksi di
Pelalawan.
Serbuk mirip tepung tapioka dibuat dari batang pohon
rumbia yang hidup dirawa-rawa yang kaya akan karbohidrat juga ditampilkan. Sagu.
Tentunya masyarakat Melayu familiar dengan makanan yang banyak di daerah
Bengkalis.
Juga ada Lemang, makanan dari beras ketan yang dibalut
dengan daun pisang dan dimasak dengan bambu. Beras ketan digulung dengah daun
pisang ditambah dengan santan kelapa kemudian dibakar. Bagi masyarakat Melayu,
lemang biasanya dimakan pada saat hari raya Idul Fithri dan Idul Adha.
Tak hanya makanan, pelengkap upacara adat seperti
tepung tawar juga ditampilkan. Peralatan tepung tawar diantaranya, beras
kuning, bunga-bunga, ramuan penabur dan pengasapan dengan kemenyan. Biasanya digunakan
untuk syukuran, keselamatan, memohon rezeki dan membuang segala penyakit. Biasanya
beras kuning ditabur pada orang yang sedang
berhajat serta membacakan doa selamat.
Warisan budaya Melayu ini disajikan Bahana sebagai
bentuk kepedulian terhadap Melayu. Tak hanya itu, di luar ruangan lampu sumbu
dengan minyak tanah bertempat botol sirup hiasi tepian sisi kiri dan kanan
tangga. Bagi masyarakat Panipahan,
Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir lampu ini disebut pelito.
Pada malam ke 27 Ramadhan pelito menerangi pelataran rumah-rumah.
PANGGUNG KEMBALI BERGETAR KALA SANGGAR MUHIBAH
SENI
tampilkan seni tradisional Kayat. Seni tradisional Kayat berasal dari
Kuantan dan masyarakat Rokan ini berupa
penyampaian puisi berirama. Dendangan diiringi
hentakan gendang serta rebab. Isi puisi berupa pesan serta nasihat. Kayat
dimainkan dengan tari-tarian, ruangan sontak bertambah ramai ketika penari
kayat mengajak undangan ikut menari.
Tak habis di sini, Bahana terus membuktikan
kepeduliannya terhadap Melayu. Tulisan-tulisan tentang Melayu yang terkumpul di
rubrik Kilas Balik, sejak 1993 hingga 2012 dikumpul dan didokumentasikan dalam
bentuk buku. Malam ulang tahun Bahana ketiga puluh tahun, buku ini dilaunching.
Berjudul Melongok 99 Kisah Mengabadi.
Serempak tepuk tangan diberikan tamu yang hadir. Semoga
buku hasil karya Bahana Mahasiswa dapat
mengingatkan kembali kebudayaan Melayu. Bahana pun terus bertekad mempertahankan
serta tetap komitmen membahanakan Melayu.
Rabu, 10 Juni 2015
Musrenbang Express
Sepenggal
cerita dari yang katanya Musrenbang
Suryadi
BERANGKAT DI JUMAT SORE PUKUL 6, dua
bus pariwisata telah menanti. Satu bus diisi seluruh utusan kelembagaan. Satunya
lagi angkut para staff kemahasiswaan. Suasana kontras terlihat, bus kelembagaan
harus berpadatan sampai kenek bus berdiri sepanjang perjalanan tak dapat
tempat duduk. Sedangkan bus untuk staff kemahasiswaan masih terdapat kursi
kosong.
Di tengah kesulitan keuangan yang mendera kelembagaan
mahasiswa, Universitas Riau sanggup keluarkan dana Rp. 49 juta untuk buat
Musyawarah Rencana Pembangunan atau Musrenbang. Tempat pelaksanaannya di Padang
selama tiga hari. Kelembagaan yang hadir disuguhkan kemewahan.
Dana Musrenbang sebesar Rp. 49 juta dihabiskan untuk
sewa dua bus Rp. 16,8 juta, konsusmsi Rp. 9.625.000, ruangan tempat rapat
kelembagaan Rp. 4,6 juta. Bantuan peserta atau bahasa lainnya uang saku
dianggarkan sebesar Rp. 16,8 juta sampai biaya alat tulis kantor Rp. 1.350.000.
Jika dihitung, perwakilan kelembagaan yang hadir
sebagai peserta Musrenbang 22 orang, masing-masing dapat uang saku Rp. 300.000.
Secara keseluruhan berjumlah Rp. 6,6 juta bukan Rp. 16,8 juta.
“Dana sebesar Rp. 16.800.000 itu sebenarnya untuk biaya
penginapan, tapi dalam pelaporannya dibuat bantuan peserta,” kata Hengki staff Pembantu
Rektor III.
PADA MUSRENBANG INI SEMUA KELEMBAGAAN
MAHASISWA bertanya kejelasan uang untuk kegiatan kelembagaan
yang mereka pimpin. Keuangan selalu saja tersendat-sendat.
Permasalahan ini dijawab Rahmat karena tidak samanya
perencanaan dari Rektorat dan kelembagaan. Apa yang diminta oleh kelembagaan
terkadang tidak sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat oleh kemahasiswaan.
“Bahkan kita terkadang harus ubah dan masuk-masukkan ke
dalam perencanaan sesuai dengan mata anggaran yang telah dibuat,” tambah
Rahmat.
Sayang jawaban Rahmat tidak begitu memuaskan. Yamin,
Ketua UKM Pramuka mengaku tak paham soal penjelasan Rahmat. Lain yang ditanya,
lain yang dijawab.
Musrenbang harusnya jadi titik cerah soal keuangan
kelembagaan mahasiswa. semua perencanaan digodok bersama. Dipimpin Toni Era
Wijaya, seluruh kelembagaan sepakat agar Rancangan Anggaran Belanja atau RAB
yang mereka usulkan tak usah dibahas. Disepakati bersama, nantinya biarlah PR
III yang bahas ini di Musrenbang universitas.
Akhirnya, kegiatan Musrenbang banyak diisi dengan
kegiatan hiburan. Jalan-jalan dan belanja. Tak hanya untuk utusan kelembagaan,
tapi juga staff kemahasiswaan beserta keluarganya.
Selasa, 09 Juni 2015
Penantian Demi Selembar Surat Sakti?
Suryadi
PERTANYAAN INI TENTUNYA MENGGELITIK.
Antara ingin menjawab atau mendiamkan saja. Tapi tak etis rasanya jika tidak
dijawab. Inilah pertanyaan paling sering terdengar ketika kru Bahana hendak
wawancara. Biasanya ke mahasiswa tingkat awal.
Tak dipungkiri ini juga karena beberapa bulan Bahana tak muncul keperedaran. Sampai
kru sendiri pun sudah kehilangan semangat. Kami sudah liputan, wawancara
sana-sini tapi tak juga cetak-cetak, ya inilah yang terjadi.
Tentu ada sebab-musabab. Kalau dibilang manusia itu
selalu mencari hal lain untuk disalahkan, bisa jadi. Tapi inilah kenyataannya. Kenapa
Bahana tak muncul dalam wujud ‘nyata’.
Bahana harus bolak-balik
rektorat sejak Juli. Bukan untuk wawancara, tapi urusan keuangan. Secara garis
besar, Bahana tak bisa hadir dalam bentuk cetak karena terkendala
keuangan dan digantungnya posisi Bahana di 2013.
DI PERTENGAHAN TAHUN ITU, Bahana
sulit sekali mengadakan kegiatan. kendalanya, no money. Padahal banyak
program kerja yang hendak dilaksanakan. Yang terbesar, Sempena 3 dekade Bahana
Mahasiswa pada 17 Juli. Adakan lomba menulis, foto dan karikatur tingkat Riau.
tentu sebagai ‘anak’ dari Universitas Riau, kami minta bantuan ke induk semang.
Ikuti prosedur yang sudah ada, kami masukkan proposal. Bagai
pungguk merindukan bulan, jawaban atas proposal tak didapat sampai hari H.
Akhirnya kegiatan terselenggara tanpa bantuan secuil pun dari UR.
Pengurus pontang-panting sana-sini cari bantuan. Sasaran,
tentu alumni Bahana, serta relasi kawan-kawan yang rela membantu. Dana dapat
seadanya, tanpa bantuan dari induk semang.
Baru satu kegiatan. cetak yang jadi agenda wajib juga
tak bisa direalisasikan. Pasalnya ya nggak ada duit untuk cetak. Majalah
kami edisi Mei soal PPL, sampai Januari ini masih berstatus ngutang. Pada 7 Januari
barulah hutang ini dibayar—baru siinduk memberi uang. Itupun awalnya sempat
dibilang kwitansi cetak yang telah kami berikan hilang. Untuk percetakan masih punya
kwitansi hutang setengah tahun itu.
Tentu ini sangat miris sekali. Tak bisa cetak, kami tak mati akal. Kami hidupkan
liputan di media online. Memanfaatkan website kami, bahanamahasiswa.co
liputan kampus terus di update.
Sudah dua kegitan tak ada bantuan. Kegiatan rutin
lainnya DJMTD Bahana Mahasiswa. diklat dasar jurnalistik buat kawan-kawan
mahasiswa. ini juga jadi wadah untuk merekrut pengurus Bahana nantinya. Diadakan
tiap April dan November.
DJMTD April tak ada dana mengucur. Saat dicek, ya
nanti, uang belum turun. Itu jawaban yang didapat. Sampai diklat awal Desember
pun tak ada dana yang disalurkan. Alasannya tutup buku. Padahal proposal sudah
masuk dari November. Secara jelas 3 kegiatan besar Bahana selaku Unit
Kegiatan Mahasiswa UR tak ada dibiayai kampus.
Bahana tetap ingin
berkegiatan. Tak ada uang putar otak. Untuk diklat saja, seluruh pengurus
terpaksa rogoh kocek sendiri. Beli perlengkapan pakai duit si A, beli makanan
pakai duit si B, sewa peralatan pakai duit si C. Kami berusaha tetap berkegiatan
walau bantuan rektorat tidak turun.
Hanya satu kegiatan yang dibantu, saat pengiriman kru
ikut pelatihan di Bali. Itupun dengan segenap usaha terus bolak-balik ke bagian
staff Pembantu Rektor III.
Tentu ini jadi pertanyaan. Kenapa susah sekali? Apa sebabnya?
SURAT KEPUTUSAN REKTOR UNTUK BAHANA.
Inilah sebab kenapa kami tak bisa dapatkan uang untuk buat kegiatan. surat yang
menyatakan siapa saja pengurus Bahana ini harus diurus setiap pergantian
kru. Supaya bagian kemahasiswaan tahu siapa saja orang yang duduk dilembaga ini.
Awalnya setiap minta dana alasan soal uang belum turun
masih dianggap lumrah. Namun pada Mei, jawaban lain seperti ‘uruslah SK kalian’
mulai mengudara dengan jelas. Kala itu kami berpendapat sebagai lembaga pers,
tentunya kebebasan pers juga kami miliki. Cukup satu saja surat izin terbit
dari Kementerian Penerangan zaman Pak Harto yang jadi pegangan kami. Namun kampus
tak terima. Harus ada SK.
Diskusi kami jajaki ke Alumni. Dizamannya apakah ada
membuat SK. Ada yang bilang buat, ada yang bilag tidak. Cukup laporan
pergantian pengurus saja, itu jawaban yang tak buat SK.
Bingung, soal ini kami
diamkan sejenak.
Ternyata saat sempena 3 dekade Bahana Mahasiswa, alumni
banyak yang mengkritisi soal Bahana. Perubahan format jadi majalah hingga tidak
mencantumkan lambang UR di spanduk kegiatan—sebenarnya karena kesal tak ada
bantuan dari UR. Akhirnya terjadi selisih paham antara pengurus dengan alumni.
Bulan berganti, pergantian pengurus pun terjadi. Pemimpin
Umum yang dulunya Lovina berpindah ke Ahlul Fadli. Kami pun sepakat buat saja
SK. Dari pada karena hal ini Bahana berlarut-larut tak bisa berkegiatan. Permohonan
SK diajukan. Turunnya selembar kertas ini pun dinantikan.
Ternyata surat ini tak turun-turun. Alasannya,
selesaikan masalah kalian dengan alumni, ujar Rahmat saat ditemui. Kaget. Itu yang
dirasakan. Ini soal internal, kenapa kampus sampai PR III mengurusi hal ini. Apa pula sebab-musabab kisruh dengan
alumni jadi alasan SK kami tak turun. Berkali-kali ditemui itu terus alasannya.
Terus didesak, PR III mewadahi pertemuan antara alumni
dengaan pengurus Bahana. Tempatnya sungguh spesial, Pangeran Hotel. Turut hadir
kawan-kawan dari Presdium BLM, BEM dan PD III se UR.
Intinya pertemuan ini membahas Bahana mau diapakan. Dheni
Kurnia, saat itu jadi moderator lempar
opsi ke hadirin “Bahana dilanjutkan atau ditutup?” tanyanya. Lucu, bagaimana mungkin
alumni ingin almamater organisasi mereka ini ditutup. Tapi ntahlah apa yang ada
dipikiran. Tak ada yang tahu kecuali diri sendiri.
Setelah pertemuan ini digelar kembali diskusi
perwakilan alumni, pengurus Bahana dan perwakilan kelembagaan bersama PR
III. Hasilnya, urusan alumni dan Bahana biarlah diselesaikan secara
interal. Cukup kampus berurusan dengan Bahana selaku organisasi di
kampus. tentu tak ada soal lagi setelah ini. SK tinggal meluncur turun, dan Bahana
bisa berkegiatan lagi.
Namun yang dinanti tak kunjung datang. Surat itu tak
juga sampai. Setelah bolak-balik meminta barulah 20 Oktober surat turun. Itupun
saat diminta baru ditanda tangani Rahmat, PR III. Jadi selama berbulan-bulan,
di mana surat ini terdampar? Demi sepucuk surat kami tak bisa berkegiatan
secara maksimal. Sungguh terlalu.
Langganan:
Postingan (Atom)